
Keterlibatan Amerika dalam
Pembentukan dan Pembangunan Indonesia
Sejarah
Amerika
Kelas
B
Oleh:
Delila
Putri S. 120210302098
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
UNIVERSITAS JEMBER
2014
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah
dengan segala puja dan puji saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang
telah memberikan kekuatan kepada kami untuk dapat menyelesaikan hal demi
halaman sehingga menjadi makalah "Keterlibatan Amerika dalam Pembentukan
dan Pembangunan Indonesia" yang
merupakan salah satu dari komponen nilai mata kuliah Sejarah Amerika dalam
kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara.
Adapun maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini
adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Amerika.
Sebelumnya kami ingin mengucapkan banyak terima kasih
atas bantuan teman-teman dan perpustakaan yang telah membantu dalam proses
penulisan makalah ini.
Kami mengharapkan kritik dan saran untuk kesempurnaan
makalah ini. Dan semoga Makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan perkembanggan
ilmu pengetahuan.
Jember, 9 Mei 2013 Penulis
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Amerika
Serikat sebagai negara adikuasa dunia telah membuktikan bahwa national power
berperan besar dalam mewujudkan kepentingan-kepentingan nasional. Hingga hari
ini, peran Amerika Serikat dalam segala aspek kehidupan di dunia selalu
dominan. Suara Amerika Serikat dalam pertimbangan dan diskusi internasional
mengenai hal apapun selalu diperhitungkan, dan mendominasi. Hal semacam ini,
tak lain dan tak bukan, adalah karena Amerika Serikat memiliki national power
yang begitu besar. Amerika Serikat selama puluhan tahun bertahan menjadi negara
adikuasa karena sebagian besar national power-nya yang tak tertandingi.
Dimulai
setelah beberapa tahun ditemukannya minyak bumi di Indonesia, dimana para ahli
minyak dari Belanda di Eropa yang tidak memiliki teknologi yang canggih saat
itu, hanya Amerika saat itu yang memilikinya. Oleh sebab itu Pemerintah
Kerajaan Belanda, dipimpin oleh Rajanya William Alexander Paul
Frederick Louis (19 February 1817 – 23 November 1890) saat itu mengundang
beberapa ahli dan para investor untuk datang ke Indonesia, dimana saat itu
masih bagian dari jajahannya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana
awal mula Amerika masuk ke Indonesia?
2. Bagaimana
peranan Amerika dalam pembentukan dan pembangunan negara Indonesia ?
3. Apa
dampak yang diperoleh Indonesia terkait keterlibatan Amerika ?
1.3 Tujuan
1. Untuk
mengetahui awal mula Amerika masuk ke Indonesia.
2. Untuk
mengetahui peranan Amerika dalam pembentukan dan pembangunan negara Indonesia
3. Untuk
mengetahui dampak yang diperoleh Indonesia terkait keterlibatan Amerika
BAB
II PEMBAHASAN
Ketelibatan AS sudah lebih dari 140 tahun yang lalu. Jika
kita melihat sejarah Indonesia dan sejarah Pertamina lalu kita menggabungkan
dengan sejarah yang di tulis di Amerika. Maka kita akan mengerti bahwa AS telah
lama terlibat di Indonesia.
Dimulai setelah beberapa tahun ditemukannya minyak bumi
di Indonesia, dimana para ahli minyak dari Belanda di Eropa yang tidak memiliki
teknologi yang canggih saat itu, hanya Amerika saat itu yang memilikinya. Oleh
sebab itu Pemerintah Kerajaan Belanda, dipimpin oleh Rajanya William
Alexander Paul Frederick Louis (19 February 1817 – 23 November 1890) saat
itu mengundang beberapa ahli dan para investor untuk datang ke Indonesia,
dimana saat itu masih bagian dari jajahannya.
Dan saat itu kesultanan Aceh adalah Kesultanan yang
berdaulat yang berada di antara 2 Raksasa Penjajah yaitu Kerajaan Inggris dan
Kerajaan Belanda. Dimana kedua kerajaan ini mengadakan perjanjian sepihak tanpa
mengikut sertakan Kesultanan Aceh yang saat itu sangat berpengaruh di Malaka.
Oleh karena setelah perjanjian
Sumatra dimana Kerajaan Belanda mengambil
alih seluruh daerah Sumatera kecuali Kesultanan Aceh dan Semenanjung Malaya dan
kepulauan2 sekitarnya, sebagian Kalimantan, serta sebagian kepulauan Papua.
Kejadian ini membuat Kesultanan Aceh marah dan mengambil alternatif lain
dengan mencoba mengadakan hubungan langsung dengan Amerika Serikat. Dimana
saat itu AS baru saja menerima hasil pembelian kepulauan yang sekarang di kenal
dengan Filipina dari Kerajaan Spanyol sebesar $ 20 juta. Dan perlu di ingat
saat itu Filipina adalah daerah operasi militer AS, bukan bagian dari negara
AS. Sehingga di pimpin oleh Gubernur Jendral dibawah Departemen Perang AS.
Tentu saja Amerika sangat menyukai niat baik Kesultanan Aceh saat itu, disebabkan kemenangan Amerika terhadap Kerajaan Spanyol (Spanyol-Amerika War). Tentunya perjajian bilateral ini sangat mengutungkan
kedua belah pihak.
Alhasil, Pemerintah Kerajaan Belanda sangat marah juga,
sehingga mereka menyerang dan menduduki ibukota kerajaan Aceh (Belanda
menyatakan Perang pada tanggal 26 March 1873). Dan terjadilah Perang Aceh yang berkepanjangan.
Amerika secara diam2 membantu perang Aceh. Walaupun akhirnya Kesultanan Aceh
kalah, tetapi AS terus mendesak Pemerintah Kerajaan Belanda untuk membuka
daerah2 nya sehingga perusahaan2 minyak Amerika dapat masuk, seperti Standard
Oil,yang dipimpin oleh John D. Rockefeller.
Selama bertahun-tahun AS terus berperan di Indonesia,
sewaktu Perang Dunia I dan Perang Dunia ke II, dimana sejak kesalahan Kerajaan
Inggris Sekutu, mencoba membunuh para pejuang Indonesia dan mencoba membantu
Belanda untuk kembali ke bekas tanah jajahannya.
Sampai kekalahan setelah kekalahan, memuncak
seperti tewasnya Jenderal Sekutu Inggris di Surabaya, dan kerugian banyak
dari tentara2 NICA di Jakarta, Surabaya, Jogjakarta, dan di Unjung Pandang,
mengakibatkan Inggris dan Belanda menerima usul dari Indonesia didukung secara
penuh oleh Amerika. Untuk tidak lagi mencoba niat buruk mereka ini. Kebijaksanaan
luar negeri Amerika terus konsisten dengan melihat niat baik pemimpin Indonesia
saat itu untuk berdikari dan merdeka atau mati. Spirit ini sangat mengagumkan
pemerintah Amerika.
Jika ditilik di tahun 50an dimana Belanda dan Inggris
dibantu Australia mencoba menggunakan Ambon Maluku Selatan dan Papua Barat
menjadi Buffer Zone untuk memecah belah persatuan Indonesia. Amerika dengan
tegas menolak dan terus membantu Pemerintah Indonesia walapun secara covert
operation mencoba menahan seperti terjadi berpuluh2 tahun sebelumnya dengan
Kesultanan Aceh.
Dalam
sejarah Republik ini, nasionalisasi perusahaan asing pernah menjadi kebijakan
resmi pemerintah, yang didukung oleh kekuatan politik progresif. Itu terjadi
pada masa pemerintahan Bung Karno di akhir tahun 1957. Kebijakan
nasionalisasi ini muncul sebagai akibat dari ‘buntunya’ perjuangan
mengembalikan Irian Barat dari tangan Belanda ke pangkuan Republik
Indonesia (RI) melalui jalur diplomasi, pasca perjanjian konferensi meja
bundar (KMB) 1949. Pemerintahan Bung Karno memutuskan untuk
menghadapi Belanda dengan cara frontal, yakni membatalkan
perjanjian KMB secara sepihak. Maka, di tahun 1956, kabinet Ali Sastroamidjojo
II membatalkan perjanjian KMB dengan Belanda secara unilateral.
Organ-organ
yang terkait dengan PNI (Partai Nasional Indonesia) dan lainya, seperti SOBSI
(Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia) dan KBM (Kesatuan Buruh
Marhaenis), menjadi pelopor dalam aksi-aksi massa menuntut
pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda dan asing lainnya, sebagai bentuk
resistensi terhadap eksistensi kolonial Belanda yang belum terlikuidasi
sepenuhnya di Republik ini.
Akhirnya,
pemerintah Bung Karno pun merespon keinginan massa rakyat tersebut.
Hasil rapat Kabinet Djuanda pada 28 November 1957 menghasilkan
beberapa keputusan penting terkait hal tersebut, antara lain: pemerintah
memutuskan untuk mendukung demonstrasi dan pengambillalihan beberapa perusahaan
Belanda. Disinilah terlihat sinergi antara pemerintahan Indonesia merdeka dibawah
pimpinan Bung Karno dan Djuanda dengan gerakan-gerakan rakyat progresif
yang disokong PNI dan PKI guna mengakhiri kekuasaan ekonomi
Belanda.
Hal-hal
semacam inilah yang membuat Pemerintah Amerika Serikat menjadi gerah dan gemes
terhadap presiden pertama Indonesia, mereka tidak suka dan dengan planning
tertentu berusaha untuk memindahkan kedudukan Sukarno dengan orang lain yang
tentunya memihak dan mau menjadi penjilat telapak kaki Negara Paman Sam.
Indonesia
sebagai objek utama Marshall Plan desain Amerika, planing yang muncul sebagai
sebuah ketakutan akut Amerika jika Indonesia berubah menjadi Negara Komunis,
Negara yang seirama dengan UniSoviet musuh besar Amerika kala itu. Jelas
perubahan Indonesia menjadi Negara komunis akan menjadi sandungan besar bagi
perjalanan hidup neokolonialisme yang Amerika pilih.
Namun
untuk menundukkan Indonesia, AS jelas kesulitan karena negeri ini tengah
dipimpin oleh seorang yang sukar diatur, cerdas, dan licin. Dialah Bung Karno.
Tiada jalan lain, orang ini harus ditumbangkan, dengan berbagai cara. Sejarah
telah mencatat dengan baik bagaimana CIA ikut terlibat langsung berbagai
pemberontakan terhadap kekuasaan Bung Karno. CIA juga membina kader-kadernya di
bidang pendidikan (yang nantinya melahirkan Mafia Berkeley), mendekati dan
menunggangi partai politik demi kepentingannya (antara lain lewat PSI), membina
sel binaannya di ketentaraan (local
army friend) dan sebagainya. Setelah berkali-kali gagal mendongkel
Bung Karno dan bahkan sampai hendak membunuhnya, akhirnya pada paruh akhir
1965, Bung Karno berhasil disingkirkan.
Setelah
peristiwa 1 Oktober 1965, secara defacto,
Jenderal Suharto mengendalikan negeri ini. Pekan ketiga sampai dengan awal
1966, Jenderal Suharto menugaskan para kaki tangannya membantai mungkin
jumlahnya mencapai jutaan orang. Mereka yang dibunuh adalah orang-orang yang
dituduh kader atau simpatisan komunis (PKI), tanpa melewati proses pengadilan
yangfair.
Media internasional bungkam terhadap kejahatan kemanusiaan yang melebihi
kejahatan rezim Polpot di Kamboja ini, karena memang AS sangat diuntungkan.
Jatuhnya
Bung Karno dan naiknya Jenderal Suharto dirayakan dengan penuh suka cita oleh
Washington. Bahkan Presiden Nixon menyebutnya sebagai "Hadiah terbesar
dari Asia Tenggara". Satu negeri dengan wilayah yang sangat strategis,
kaya raya dengan sumber daya alam, segenap bahan tambang, dan sebagainya ini
telah berhasil dikuasai dan dalam waktu singkat akan dijadikan ‘sapi perahan'
bagi kejayaan imperialisme Barat.
Benar
saja, Nopember 1967, Jenderal Suharto menugaskan satu tim ekonom pro-AS menemui
para'bos' Yahudi Internasional di Swiss. Disertasi Doktoral Brad Sampson, dari Northwestern UniversityAS menelusuri
fakta sejarah Indonesia di awal Orde Baru. Prof. Jeffrey Winters diangkat
sebagai promotornya. Indonesianis asal Australia, John Pilger dalamThe New Rulers of The World,
mengutip Sampson dan menulis:
"Dalam
bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar' (istilah
pemerintah AS untuk Indonesia setelah Bung Karno jatuh dan digantikan oleh
Soeharto), maka hasil tangkapannya itu dibagi-bagi. The Time Life Corporation
mensponsori konferensi istimewa di Jenewa, Swiss, yang dalam waktu tiga hari
membahas strategi pengambil-alihan Indonesia.
Para
pesertanya terdiri dari seluruh kapitalis yang paling berpengaruh di dunia,
orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili
perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical
Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express,
Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel, ICI, Leman
Brothers, Asian Development Bank, Chase Manhattan, dan sebagainya."
Di
seberang meja, duduk orang-orang Soeharto yang oleh Rockefeller dan
pengusaha-pengusaha Yahudi lainnya disebut sebagai ‘ekonom-ekonom Indonesia
yang korup'.
"Di
Jenewa, Tim Indonesia tersebut terkenal dengan sebutan ‘The Berkeley Mafia'
karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika
Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang
sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para
majikannya yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan
bangsanya. Tim Ekonomi Indonesia menawarkan: Tenaga buruh yang banyak dan murah,
cadangan dan sumber daya alam yang melimpah, dan pasar yang besar."
Masih dalam kutipan John Pilger, "Pada hari kedua, ekonomi
Indonesia telah dibagi sektor demi sektor." Prof. Jeffrey Winters
menyebutnya, "Ini dilakukan dengan cara yang amat spektakuler."
"Mereka membaginya dalam lima
seksi: pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di
kamar satunya, perbankan dan keuangan di kamar yang lain lagi; yang dilakukan
oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan
kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya.
Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke
meja lainnya, mengatakan, ‘Ini yang kami inginkan, itu yang kami inginkan, ini,
ini, dan ini.' Dan mereka pada dasarnya merancang infrastruktur hukum untuk
berinvestasi. Tentunya produk hukum yang sangat menguntungkan mereka. Saya
tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global
duduk dengan wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan
merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya
sendiri."
Freeport mendapatkan gunung tembaga
di Papua Barat (Henry Kissinger, pengusaha Yahudi AS, duduk dalam Dewan
Komisaris). Sebuah konsorsium Eropa mendapatkan Nikel di Papua Barat. Sang
raksasa Alcoa mendapatkan bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok
perusahaan Amerika, Jepang, dan Perancis mendapatkan hutan-hutan tropis di
Kalimantan, Sumatera, dan Papua Barat.
Dia
juga menolak bantuan keuangan dari AS berupa pinnjaman uang. Sukarno menilai
bahwa hubungan antara dunia pertama dengan dunia ketiga adalah yakni antara
Oldefos dan Nevos antara Old establish forces dengan New Emerging Forces adalah
bentuk dari neokapitalisme. Contoh dari neokapitalis berdasarkan pandangan ini
adalah Italia dan Inggris. Pemikiran ini berkembang hingga tahun 1965.
Sebenarnya
bangsa Indonesia adalah bangsa yang haus dengan keadilan, beberapa tahun lalu
dengan penuh kesadaran mereka menolak penyerangan Amerika pada Irak,
Afganistan, pemberian bantuan pada Rezim Zionis Israel dll, mereka menilai
Amerika dan konco-konconya adalah Negara berpolitik muka dua dibidang HAM.
Amerika hanya melakukan sesuatu selama hal itu bisa memberikan keuntungan
padanya.
Pada
Januari 2011 lalu, Goethe Institute menggelar konferensi internasional bertajuk
Indonesia and the World in 1965. Konferensi itu menghadirkan pakar dan
peneliti, antara lain, Bradley Simpson, Ragna Boden, Jovan Cavoski, dan Richard
Tanter. Makalah berjudul Amerika
Serikat dan Dimensi Internasional dari Pembunuhan Massal di Indonesia yang
disampaikan oleh Bradley Simpson, dosen sejarah di Universitas Princeton,
Amerika Serikat.
Makalah
itu menyingkap keterlibatan AS secara langsung untuk menghancurkan Partai
Komunis Indonesia (PKI) dan penyingkiran Soekarno. Untuk diketahui, sebagian
besar informasi di makalah Brad Simpson dari arsip-arsip AS sendiri, seperti
telegram (rahasia) Kedubes AS, memo sejumlah pejabat AS, kabel infomasi CIA,
airgram Kedubes AS, dan lain-lain. Jadi, akurasi informasinya cukup
menyakinkan.
Dari
makalah Brad Simpson itu, saya menangkap setidaknya ada dua kepentingan besar
AS di Indonesia saat itu. Pertama, AS berkepentingan mengubah haluan
politik luar negeri Indonesia saat itu, yang terang-terangan anti-kolonialis
dan anti-imperialis, agar kembali ke pangkuan barat. Kedua, menjaga
kepentingan ekonomi AS melalui perusahaan-perusahaannya yang beroperasi di
Indonesia dan, kalau memungkinkan, memperluasnya.
Untuk
mencapai dua misi itu, AS punya kepentingan untuk: satu, menghancurkan
PKI. Sebab, PKI merupakan kekuatan politik utama yang menentang kepentingan
ekonomi-politik AS di Indonesia; dua, menggulingkan Soekarno dan
menciptakan rezim baru yang lebih sejalan dengan kepentingan barat. Untuk lebih
memudahkan para pembaca menangkap peran AS dalam memainkan situasi Indonesia
untuk mencapai tujuannya, saya mencoba membagi tiga pembahasan–tentunya dengan
mengacu pada makalah Brad Simpson; 1) pra-G30S 1965; 2) saat peristiwa G30S
1965 meletus; dan 3) pasca G30S 1965.
·
Pra G30S 1965
Sebelum
peristiwa G30S 1965, seperti ditulis Brad, AS sudah melakukan sejumlah aksi
untuk membendung laju komunisme, politik luar negeri non-blok, dan
rencana-rencana pembangunan di Indonesia. Salah satunya adalah keterlibatan AS
dalam menyokong militer kanan dalam pemberontakan PRRI/Permesta di tahun
1950-an. Selain itu, kata Brad, AS juga bekerjasama dengan sejumlah intelektual
berorientasi barat di Indonesia, yang kecewa dengan pembubaran Demokrasi
Parlementer. Selain itu, pemerintah AS, lembaga-lembaga kemanusiaannya, dan
lembaga seperti Bank Dunia mencoba ‘merayu’ Soekarno untuk menerima bantuan
militer, ekonomi, dan teknis.
Harapan
AS untuk membawa Indonesia ke pangkuan barat benar-benar pupus begitu Soekarno melancarkan
konfrontasi terhadap Federasi Malaya (federasi bentukan Inggris). Di sisi lain,
politik luar negeri Indonesia makin merapat ke Cina. Pada Agustus 1964, kata
Brad, AS memulai operasi-operasi rahasia untuk menggulingkan Soekarno dan
memancing konflik yang tajam antara Angkatan Darat (AD) dan PKI. Saat itu,
pihak intelijen AS menyimpulkan bahwa kekusaan Presiden Soekarno mustahil
dilawan selama dia masih hidup, “kecuali, tentu saja, jika beberapa teman kita
ini mencoba menggulingkannya.”
Inggris
juga mengikuti langkah serupa tahun 1964. Bahkan, Asisten Menteri Luar Negeri
Inggris, Edward Peck, mengisyaratkan bahwa ‘ada peluang besar untuk mendorong
timbulnya suatu kudeta prematur oleh PKI selama Soekarno masih hidup.’ Awal
1965, ada peristiwa yang membuat AS dan barat makin tidak sabar untuk menghajar
PKI dan menggulingkan Soekarno. Pertama, keputusan Soekarno menarik
Indonesia keluar dari PBB. Kedua, para pekerja Sarekat Buruh Perkebunan
Republik Indonesia (SARBUPRI)–yang berada di bawah kendali PKI–untuk merebut
perkebunan-perkebunan yang dimiliki oleh US Rubber Company di Sumatera Utara.
Pada
saat bersamaan, Februari 1965, Presiden Soekarno, Waperdam III Soebandrio, dan
Menteri Perkebunan Frans Seda menyampaikan kepada perwakilan US Rubber Company
dan Goodyear, bahwa pemerintah (Indonesia) mengambil ‘kendali administratif’
atas perkebunan-perkebunan karet milik asing dan mendukung pengambilalihan
properti milik barat.
AS
tentu gerah dengan aksi-aksi tersebut. Karena itu, pejabat AS segera memperingatkan,
“Soekarno dan para komandan militer sudah kami beritahu, bahwa begitu terjadi
sesuatu yang mengisyaratkan adanya campur tangan terhadap kendali atas
Caltex….pengeboran minyak dari Indonesia akan dihentikan.” Ini ancaman yang
serius. Maklum, jika pengeboran minyak dihentikan, ekonomi Indonesia makin
lumpuh. Yang menarik dari ulasan Brad, ketika merespon situasi di Indonesia,
terutama politik konfrontasi Soekarno terhadap federasi Malaysia, Inggris
mempertimbangkan untuk memecah Indonesia menjadi negara-negara kecil. Ya,
Inggris memang paling lihai dalam urusan memecah-belah bangsa, seperti yang
dilakukannya terhadap India dan Pakistan, lalu Malaysia.
Pada
Februari 1965, CIA mengusulkan untuk memperluas cakupan operasinya di
Indonesia, termasuk hubungan rahasia dengan kelompok-kelompok anti-komunis, black
letter operation, operasi media, termasuk kemungkinan aksi ‘radio hitam’
dan politik hitam di dalam lembaga-lembaga politik di Indonesia.
Dari
uraian di atas, saya kira, AS dan sekutunya memainkan peran besar dalam
memprovokasi situasi di Indonesia. Dugaan bahwa AS dan sekutunya turut bermain
dalam isu “Dewan Jenderal” dan “Dokumen Gillchrist” sangat mungkin terjadi.
Provokasi-provokasi itu bermakna dua hal: pertama, memancing pendukung
Soekarno, termasuk PKI dan Angkatan Bersenjata, untuk melancarkan operasi
kontra-kudeta yang prematur; kedua, mempertajam peruncingan antara sayap
kiri (Soekarno, militer progressif dan PKI) melawan sayap kanan (AD, Masyumi,
PSI, dll).
·
Peristiwa G30S 1965 Dan Pembantaian Massal
Gerakan
prematur yang dilancarkan oleh sekelompok Angkatan Darat (AD) untuk
menggagalkan rencana kup Dewan Jenderal, yang ironisnya memperlihatkan Biro
Khusus PKI, merupakan momen yang paling ditunggu-tunggu oleh AD yang
anti-komunis dan sekutu internasionalnya (negara-negara kapitalis).
Dengan
meminjam hipotesis John Rosa, penulis Dalih Pembunuhan Massal, Brad
menyimpulkan bahwa G30S dijadikan dalih/justifikasi bagi Soeharto, AD, dan
pendukung internasionalnya untuk melakukan pembasmian terhadap PKI. Begitu G30S
dipatahkan, tanggal 1 Oktober 1965, pejabat Washington tidak bisa
menyembunyikan kekhawatirannya terhadap kemungkinan AD tidak menggunakan
peluang itu untuk menumpas habis PKI. Kabel CIA tertanggal 17 Oktober 1965
menunjukkan: “CIA memperingatkan bahwa AD boleh jadi cukup puas dengan hanya
melakukan tindakan terhadap mereka yang terlibat langsung dalam pembunuhan
Jenderal, dan membiarkan Soekarno memperoleh kembali sebagian besar
kekuasaannya.”
Dubes
Inggris di Indonesia, Andrew Gilchrist, menyerukan dilakukannya “propaganda
dini yang (direncanakan) secara hati-hati dan aktivitas perang urat syaraf guna
memperburuk perselisihan di dalam negeri (Indonesia) dan memastikan pembasmian
dan penghalauan PKI oleh tentara Indonesia.”
Telegram
Kedubes AS tanggal 5 Oktober 1965 mengatakan: “pemerintah AS, Inggris, dan
Australia berusaha membantu AD dengan menciptakan propaganda mengenai kesalahan,
penghianatan, dan kekejaman PKI [garis miring oleh penulis] dan tuduhan
mengenai adanya kaitan antara G30S dengan Cina.” Tanggal 13 Oktober 1965, Menlu AS Dean Rusk
menyimpulkan bahwa sudah tiba waktunya untuk memberi isyarat pihak militer
(Indonesia) mengenai sikap AS terhadap perkembangan terkini. Menurut Rusk,
bersedia dan tidaknya AD menuntaskan aksinya terhadap PKI bergantung pada atau
harus dipengaruhi AS.
Pada
saat yang sama, ajudan Jenderal Nasution mendekati Dubes AS untuk meminta
bantuan peralatan komunikasi portabel untuk keperluan panglima AD. Bantuan
Kedubes itu menandai penarikan pengakuan Washington terhadap Soekarno sebagai
pemimpin Indonesia yan sah. Artinya, Washington terang-terang memaksakan campur
tangan untuk mengganti pemerintahan sah di Indonesia.
Segera
setelah itu, mulai terdengar aksi-aksi pembantaian massal nan keji terhadap
anggota dan simpatisan PKI. Pada tanggal 4 Oktober, Kedubes AS melaporkan bahwa
RPKAD di daerah komando Jateng memberi pelatihan dan senjata kepada pemuda
muslim. Di sumatera utara dan Aceh, pemuda IPKI dan unsur-unsur anti-kom mulai
dorongan sistematis untuk menumpas PKI.
Yang
menarik dari ulasan Brad Simpson, Kedubes maupun Konsul AS di Indonesia
menerima banyak laporan tentang pembantaian massal terhadap anggota dan
simpatisan PKI, misalnya: Tanggal 13 November: kepala Informasi Polisi Kol
Budi Juwono melaporkan bahwa 50 sampai 100 anggota PKI di bunuh setiap malam di
Jawa Timur dan Jawa tengah oleh kelompok sipil anti-komunis atas restu AD.
Tanggal 16 November: Pemuda Pancasila
memberitahu Konsulat AS di Medan bahwa mereka bermaksud membunuhi setiap orang
PKI yang mereka jangkau.
Bulan November: missionaris memberitahu
konsulat AS di Surabaya bahwa 15.000 komunis dibunuh di daerah Tulungagung
saja. Di Pasuruan, Jawa Timur, 2000 buruh pabrik Nebritex–semuanya anggota
SOBSI–dibunuh sejak akhir November.
Di perkebunan-perkebunan di Sumatera Utara,
kelompok anti-komunis membantai sedikitnya 3000 anggota PKI setiap minggu.
Ironisnya,
seperti diungkapkan Brad Simpson, AS menanggapi pembantaian massal itu dengan
antusias. Malah mengintensifkan bantuan kepada tentara dan kelompok
anti-komunis. Yang paling menyedihkan adalah komentar pejabat Deplu AS, Howard
Federspiel: “Tak ada yang peduli jika mereka disembelih, asalkan mereka
komunis.”
Di
sini saya mencoba menarik dua kesimpulan: pertama, AS telah mengeksploitasi
G30S sebagai justifikasi untuk menyingkirkan PKI; kedua, AS terlibat
dalam mendanai, mengoperasikan, dan mengintensifkan pembantaian massal terhadap
orang-orang PKI.
·
Pasca G30S
Telegram
Kedubes AS tanggal 2 November 1965 mengatakan, “negara-negara barat bersikeras
bahwa militer bukan hanya harus menghancurkan PKI, melainkan juga menyingkirkan
Soekarno dan pendukungnya.” Negara-negara
barat khawatir, selama Soekarno masih berkuasa, AD akan sulit untuk melakukan
perubahan drastis di Indonesia sesuai dengan harapan AS dan sekutunya. Untuk
itu, pejabat AS mulai memikirkan untuk bagaimana membantu AD menyingkirkan
Soekarno.
Salah
satu aksi paling efektif yang dilancarkan AS dan sekutunya untuk menjatuhkan
Soekarno, seperti dicatat Brad Simpson, adalah memperburuk situasi ekonomi
Indonesia. Langkah yang menyerupai perang ekonomi ini punya makna: 1) membuat
pemerintah Soekarno terjepit dengan mengarahkannya pada posisi kebangkrutan; 2)
menciptakan ketidakpuasan populer dikalangan rakyat terhadap situasi ekonomi
yang memburuk.
Perang
ekonomi itu cukup efektif. Di awal 1966, ekonomi Indonesia di ujung keruntuhan.
Ini dipakai oleh AD dan mahasiswa kanan untuk mendesakkan aksi-aksi menuntut
penurunan harga dan mengeritik kegagalan ekonomi Soekarno. Yang paling ironis,
sekaligus benar-benar licik, adalah upaya mengalihkan sumber-sumber devisa
Indonesia, yang seharusnya masuk ke Bank Sentral, justru masuk ke kantong
Soeharto dan kelompoknya. Pada Februari 1966, Caltex tidak lagi membayar kepada
Bank Sentral Indonesia, melainkan kepada rekening tak bernama di Belanda.
Ironisnya, Menteri Perkebunan Frans Seda membuat aturan serupa terhadap
perusahaan perkebunan AS yang lain, seperti Goodyear, US Rubber, dll. Ini
membuat soekarno benar-benar terjepit.
Dengan
situasi ekonomi yang memburuk, ditambah aksi-aksi mahasiswa kanan yang disokong
oleh AD dan didanai AS/sekutunya, popularitas pemerintahan Soekarno merosot.
Hingga akhirnya kekuasaannya dicolong oleh Soeharto pada bulan Maret 1966.
Segera
setelah kendali kekuasaan sudah di tangan Soeharto/militer, AS dan sekutunya
mulai merancang transisi di indonesia, termasuk mendesakkan paket-paket ekonomi
untuk mengembalikan Indonesia sebagai ‘pejalan kapitalisme barat’. Pada tahun
1967, disahkanlah UU Penanaman Modal Asing (PMA) yang sesuai dengan kehendak
negara-negara kapitalis barat. Lembaga-lembaga imperialis seperti IMF, Bank
Dunia, IGGI, dan LSM-LSM turun tangan untuk membantu Soeharto menata kekuasaannya
dan model ekonominya agar benar-benar terbuka bagi kepentingan barat.
Dalam
penyusunan UU PMA, misalnya, AS mengerahkan konsultan untuk membantu Widjoyo
Nitisastro, seorang ekonom pro-barat, untuk menyusun UU tersebut. Setelah
selesai, draftnya diserahkan ke Kedubes AS untuk dimintai komentar akan
perlunya perbaikan-perbaikan dari pihak investor AS. Lalu, untuk menguji
kesetiaan rezim baru Soeharto terhadap investor asing, maka Freeport yang
beroperasi di Papua sebagai ujian pertamanya. Setelah investor Freeport sukses,
investor-investor asing pun mulai berebut jarahan di bumi Indonesia.
Selama
bertahun-tahun AS terus berperan di Indonesia, sewaktu Perang Dunia I dan
Perang Dunia ke II, dimana sejak kesalahan Kerajaan Inggris Sekutu, mencoba
membunuh para pejuang Indonesia dan mencoba membantu Belanda untuk kembali ke
bekas tanah jajahannya.
Sampai
kekalahan setelah kekalahan, memuncak seperti tewasnya Jenderal Sekutu
Inggris di Surabaya, dan kerugian banyak dari tentara2 NICA di Jakarta,
Surabaya, Jogjakarta, dan di Unjung Pandang, mengakibatkan Inggris dan Belanda
menerima usul dari Indonesia didukung secara penuh oleh Amerika. Untuk tidak
lagi mencoba niat buruk mereka ini.
Kebijaksanaan
luar negeri Amerika terus konsisten dengan melihat niat baik pemimpin Indonesia
saat itu untuk berdikari dan merdeka atau mati. Spirit ini sangat mengagumkan
pemerintah Amerika.
Jika
ditilik di tahun 50an dimana Belanda dan Inggris dibantu Australia mencoba
menggunakan Ambon Maluku Selatan dan Papua Barat menjadi Buffer Zone untuk
memecah belah persatuan Indonesia. Amerika dengan tegas menolak dan terus
membantu Pemerintah Indonesia walapun secara covert operation mencoba menahan
seperti terjadi berpuluh2 tahun sebelumnya dengan Kesultanan Aceh.
Bukti
Sejarah membuktikan bahwa Indonesia yang mendapat kan kredit yang seharusnya
dalam menghapus segala bentuk penjajahan yang ada di bumi Indonesia. Walaupun
banyak pihak mencoba membantah legitiminasi atas claim Pemerintah Indonesia
terhadap Maluku Selatan dan Papua Barat (Irian Jaya yang berarti Irian yang
Rakyat Indonesia akan selalu Berjaya).
Karena apa?
Kerena Amerika juga dibangun dengan prinsip yang
sama dengan Indonesia.
Untuk Amerika berlaku slogan “No More For
The Queen or King of England”, bagi Indonesia berlaku slogan “No
More for The Queen of King of Netherlands.”
Biar
bagaimana pun pandangan terhadap masyarakat sekarang ini, kebijaksaan2 dan
prinsip2 yang jelas terus dilakukan terhadapa Indonesia selalu konsisten.
Amerka Serikat akan selalu menjadi mitra yang terbaik untuk Indonesia. Indonesia
adalah suatu negara ke 3 terbesar di Asia yang berdikari dan memiliki haluan
yang independen.
Diharapkan
tulisan ini membantu banyak masyrakat untuk melihat sejauh mana sejarah menulis
bagaimana keterlibatan Amerika di Indonesia lebih dari 140 tahun yang lalu. Amerika
sebagai negara adi daya telah melancarkan Operasi2 terselubung, yang
menghancurkan tatanan kehidupan di Indonesia yang dipenuhi oleh pemimpin yang
jujur dan soleh.
Operasi
ini dapat di katagorikan dengan 2 bagian. Menurut data yang didapat setelah
lebih dari 40 tahun malang melintang di dunia intelejen Asia Tenggara. Seorang
yang bernama ” Soetomo” code name nya “Dewaruci” memaparkan secara garis besar
2 katagori operasi terselubung Amerika Serikat.
1.Pendidikan
Melalui pemberian kesempatan mendapat pendidikan tinggi dalam banyak aspek ilmu yang ada. Maka para generasi patisipan ini nanti nya akan menjadi Agen Koruptor Yang Canggih danTamak.
Contoh yang terbaru adalah perancang Mobil Mewah Listrik yang di pakai DI Menteri Pelawak Indonesia yang terkenal dengan Tabrakan Mautnya di teping menuju Surabaya, Jatim. Beliau adalah Agen Amerika yang sekolah dan bekerja di Amerika. Sehingga Beliau menjadi seorang yang Terkenal, dengan terkenal ini beliau akan membantu para pejabat2 Indonesia, supaya menjadi Koruptor sejati.
Melalui pemberian kesempatan mendapat pendidikan tinggi dalam banyak aspek ilmu yang ada. Maka para generasi patisipan ini nanti nya akan menjadi Agen Koruptor Yang Canggih danTamak.
Contoh yang terbaru adalah perancang Mobil Mewah Listrik yang di pakai DI Menteri Pelawak Indonesia yang terkenal dengan Tabrakan Mautnya di teping menuju Surabaya, Jatim. Beliau adalah Agen Amerika yang sekolah dan bekerja di Amerika. Sehingga Beliau menjadi seorang yang Terkenal, dengan terkenal ini beliau akan membantu para pejabat2 Indonesia, supaya menjadi Koruptor sejati.
Dalam
contoh yang terhebat adalah Partai Demokrat yang pengurus nya selaku partai
berkuasa, baik dalam Legislatif, maupun Exsekutif telah memberikan contoh
dimana pendidikan tinggi gaya Amerika dan agen setianya menjadi Koruptor. Bahkan
setelah mendapat pendidikan yang tinggi, mereka semakin LIHAY atau CERDIK nya
Mencoba Menggunakan Segala Cara supaya tidak tertangkap. Kalaupun tertangkap
mereka menggunakan metode yang ke 2 atau biasa disebut Plan B.
Apa metode ke 2 atau plan B ini?
Metode ke 2 atau plan B ini adalah kekuatan US DOLLAR, yang
biasa disebut oleh Anggie dan Konco2 Anggota DPR Berjamaah dan Bermufakaat
Merajah Uang Pinjaman dari Amerika ini ….APPLE WASHINGTON. Tidak dapat disangkal kekuatan
AW (Apple Washington) sangat POTEN alias SAKTI MANDRA GUNA. Biarpun sudah
Sumpah Jabatan, Sekolah Kepercayaan Tinggi, Ilmu Tasawuf, Ilmu Majallun, Ilmu
Kebathinan, Sumpah Gantung Di Monas, Sumpah Pocong Si Manis Jembatan Bina Ria
tidak dapat mampu mengalahk kekuatan si AW ini. Kekuatan Death President of
United States Of America ( si AW)ini lah yang memiliki Kekuatan Magis yang
sangat berpengaruh sekali dengan Kesuksesan Operasi Terselubung Intelijen
Amerika Serikat. Tidak lah heran sejak Orde Baru, sampai lebih dari 15 tahun
Reformasi Indonesia, Operasi Inteligen ini sangat sukses sekali. Oleh sebab itu
para pecinta Onta, Padang gurun, serta Nasionalis sejati, maupun barisan sakit
hati seperti para bekas pemimpin Orde Baru, yang sudah Akie2 dan Nenek2 masih
saja Bernafsu Menjadi Pemimpin di Indonesia. Contohnya sudah jelas, bahwa
pemimpin2 lalu terus menerus memajukan dirinya untuk menjadi Presiden
Indonesia. Beberapa dari mereka, para pembaca bisa menebak siapa orang nya. Operasi
pemecah belah ini justru menguntungkan Amerika sebagai negara Penyandang Dana. Contoh
jelasnya Jepang, Korea Selatan, serta Taiwan, dan kini China merupakan Contoh
Yang Buruk, dimana Amerika tidak berhasil memecah belah Negara tersebut.
Amerika
telah salah mengkalkulasikan bagaimana negara2 tersebut bisa Maju, bahkan
secara Ekonomi telah menandingi Amerika. Sehingga Amerika kehabisan Uang untuk
memberikan Hutang kepada Mereka, produk2 mereka menjadi kesayangan rakyat di
Amerika. Contohnya, Toyota, Honda, Nissan, Mitsubishi, Kubota, Yanmar, dari
Jepang. Hyundai, Kia, Samsung, buatan Korea Selatan. Semua barang2 mulai dari
iPhone, sampai celana dalam buatan China.
Bukti
kegagalan Operasi Intelijen Amerika ini terhadap negara2 di atas yang saya
telah sebutkan, justru membuat suatu peringatan kepada pemerintah Amerika. Dari
Taiwan, China, Jepang, Korea Selatan, Indonesia, Thailand, dan Philippine,
hanya 2 negara yang berhasil di hancurkan menggunakan 2 Metode di atas
tersebut.
Bahkan
sekarang ini China telah mendapat 10,000 quota bagi pelajar setingkar S2 ke
atas untuk belajar, dan bekerja di tempat riset2 Universitas yang ada di
Amerika Serikat. Dan yang lebih parah lagi China sudah menjadi Negara yang
memberikan Pinjaman Dana kepada pemerintah Amerika. Padahal di Indonesia, kehebatan
pejabatnya yang di sekolahkan tinggi dengan biaya Amerika terbukti berhasil
membuat Pejabat2 ini Menjadi Koruptor, sedangkan diChinajustruberbandingterbalik.
Inilah bukti bahwa tidak semua Metode Operasi
terselubung Amerika berhasil. Yang dapat kita pelajari dari kasus2 di atas,
bahwa ternyata Peranan Amerika Serikat terhadap Koruptor di Indonesia sangat
dalam dan Sukses. Walaupun di Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan China tidak
berhasil. Untuk itu Biarlah Indonesia mulai sekarang harus belajar dengan
negara2 yang telah berhasil dengan sukses menghacurkan Kekuatan AW ini.
Kalaupun tidak belajar paling tidak Koruptor ini mulai sekarang membiasakan
mencintai Ringgit, Real, Singapore Dollar, Yanminbi, Yen, Taiwan Dollar, atau
SK Won, mungkin juga Thai Baht.
BAB
III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Amerika Serikat sebagai negara
adikuasa dunia telah membuktikan bahwa national power berperan besar dalam
mewujudkan kepentingan-kepentingan nasional. Hingga hari ini, peran Amerika
Serikat dalam segala aspek kehidupan di dunia selalu dominan. Suara Amerika
Serikat dalam pertimbangan dan diskusi internasional mengenai hal apapun selalu
diperhitungkan, dan mendominasi. Hal semacam ini, tak lain dan tak bukan,
adalah karena Amerika Serikat memiliki national power yang begitu besar.
Amerika Serikat selama puluhan tahun bertahan menjadi negara adikuasa karena
sebagian besar national power-nya yang tak tertandingi.
Dimulai
setelah beberapa tahun ditemukannya minyak bumi di Indonesia, dimana para ahli
minyak dari Belanda di Eropa yang tidak memiliki teknologi yang canggih saat
itu, hanya Amerika saat itu yang memilikinya. Oleh sebab itu Pemerintah
Kerajaan Belanda, dipimpin oleh Rajanya William Alexander Paul
Frederick Louis (19 February 1817 – 23 November 1890) saat itu mengundang
beberapa ahli dan para investor untuk datang ke Indonesia, dimana saat itu
masih bagian dari jajahannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar